Monday, January 17, 2011

Setetes mutiara

Mata terasa berat,sungguh sudah sangat ingin tidur rasanya. Kulirik arloji yang melengket di tanganku,hampir dini hari. Ogah-ogahan ku raih buku tebal panjang di atas meja,ku baca,ada advis(therapy obat-obatan)dokter yang harus di berikan pada satu orang pasien ku tengah malam ini. Seorang anak laki-laki berumur enam tahun. "Huh,satu orang saja,kenapa harus jam segini sih therapinya?",dongkolku dalam hati,sesekali menyalahkan dokter dan advisnya.

Dengan langkah berat,terpaksa aku keluar dari ruanganku dan melangkah menuju bangsal dimana pasienku itu berada. Udara dingin langsung menyambut,memang tadi telah turun hujan deras mengguyur kota ini,dinginnya seakan menyuruhku kembali ke dalam ruang jagaku yang hangat.

Diruang bangsal yang lumayan luas ini,ternyata hanya pasien ini yang tersisa.
Kubuka pintu perlahan,dan tertegun sejenak di pintu,langkahku terhenti.
Kupandangi,seorang ibu,dengan mukenah duduk bersimpuh menghadap kiblat,di bawah tempat tidur anaknya,tangannya menengadah,samar-samar ku dengar lafaz-lafaz Alquran keluar dari bibirnya. Kemudian tak henti-hentinya menyebut asma Allah,sesekali ku dengar isakan di antara doanya.
Ibu itu menyadari keberadaanku,dia menoleh ke arahku dan tersenyum menyeka air matanya,dia kemudian berdiri dan berkata,"oh ada ibu perawat,silahkan bu"..
Ku lihat spuit(jarum suntik) yang ku genggam dari tadi,tersadar dan ku jawab"eh iya bu,permisi,pasiennya akan saya suntikkan obatnya sekarang",kuraih selang infus kemudian perlahan ku suntikkan obatnya. Sesekali ku lirik ibu itu,duduk disamping anaknya,dan tak henti mengusap kepala anaknya,sepertinya dia sangat mencemaskan kondisi sang anak. Obat sudah selesai ku suntikkan ,ibu itu tersenyum padaku dan berkata"terima kasih bu suster,sudah dengan sabar merawat anak saya ",aku tersenyum dan menjawab"iya bu,ini memang sudah tugas saya''. Kulirik lagi ibu itu,kerut hitam dikantung mata sangat jelas terlihat,"ibu kurang istirahat,silahkan ibu istrahat dulu"lanjutku,sebelum aku beranjak meninggalkan bangsal ini. Ibu itu menjawab"iya bu,istrahanya nanti saja,di rumah,kalo anak saya sudah sembu dan di ijinkan pulang",aku pun berbalik dan meninggalkan ibu dan anak itu..

"Tugas..."lirihku dalam hati,iya,tugas yang hampir saja ku abaikan. Dibalik pintu bangsal aku tertegun lagi,masih ku amati ibu itu dengan mukenah yang masih melekat di tubuhnya. Jika saja tidak segera ku laksanakan tugas ini,jika saja aku menundanya 1 jam saja dan memilih indahnya alam mimpi dalam selimut hangat di ruang jagaku,ibu itu pasti akan lebih lama terjaga,pasti akan lebih sering menyeka air matanya,pasti akan lama merasakan gelisah,melihat buah hatinya terbaring lemah,dengan penyakit yang menggerogoti tubuh mungil anaknya. Kusesali sikap ogahku tadi,ku pastikan esok takkan ku lakukan lagi.

"Maafkan saya yang hampir saja lalai.."kataku dalam hati,dan kembali masuk ke dalam ruang jagaku.

END...


Ketika menulis ini terbayang-bayang wajah bos besarku(ibu kepala) yang ramah,ini dia orangnya

lagi visite,..                                  















No comments:

Post a Comment