>> Suatu hari ada yang bertanya,
bagaimana sih caranya
mengetahui orang itu benar-benar
cinta kepada kita?
Sebetulnya
pada saat AWAL jatuh cinta,
semua cinta itu asli dan benar-benar cinta.
Masalahnya adalah
apakah cintanya tetap bertahan
setelah tahu bahwa yang dicintainya itu
sifatnya aneh, bicaranya norak,
mata duitan, dan pergaulannya
mengkhawatirkan.
Awal dari semua cinta itu asli,
yang bisa palsu adalah kelanjutannya. (Mario Teguh)
>> seorang wanita berkata : "Aku melihatnya tengah duduk di pinggir jembatan,pinggir laut,kota ini. Dia memakai baju hitam,dengan topi,ketika pertama kali bertemu dengannya.."
"Pribadi yang menawan",
"sedikit blak-blakan,tapi manis.."
"Hatiku seperti memilihnya,hatiku akan berkata iya dan mengangguk pada semua yang di ingininya.
dia siap menghantui langkahku dengan senyum disudut bibirnya.."
>> ya,cinta di awalnya masih terasa aslinya,
seketika itu juga,mau mati untuknya,inilah mungkin yang disebut cinta pada pandangan pertama,cinta pada ke elokan rupa yang spintas terlihat,
>>Yang palsu adalah kelanjutannya,
ketika tau gimana bibit,bebet,bobotnya,cinta yang menggebu-gebu,seakan luntur dengan logika-logika bahwa "dia yang sedang di cintai"itu,tak sebaik aura muka yang di lihat pada awalnya.
dan wanita itu berkata :"aku ingin hidup denganmu,tapi cinta saja tidaklah cukup..karena hidup,memang tidak bergantung pada satu hal saja..",dia pun berlalu pergi meninggalkan orang yang dia cintai,.
Lalu,apa yang salah dengan cinta saja?bukankah bebet dan bobotnya bisa di cari?dengan berusaha keras, mungkin Tuhan akan bermurah hati memberi..
banyak yang bilang,jangan lah mencintai apa adanya,tapi harus "ada apanya"..
>> pada kesempatan lain,aku melihat seorang wanita,dia mempunyai sesuatu,katakan lah wanita yang "ada apanya", patut di perhitungkan untuk bibit,bebet dan bobotnya.
Tapi ini justru menjadi masalah, Ketika seseorang yang dia cintai berkata : "mungkin aku tidak bisa ngimbangin kamu,dalam segala hal, aku hanya punya cinta untukmu,dan cinta saja tidak cukup.."
Lalu?apa yang salah jika wanita seperti itu?Haruskah dia membunuh takdirnya?
Kenapa seakan laki-laki itu berteguh pada egonya?,apa sudah hukumnya, laki-laki harus lebih tinggi tinggi derajatnya dari wanita yang di imami nya..??
tapi, apa tidak terkesan keterlaluan,hanya karena merasa dia tidak sempurna untuk "duniawi", lantas berhenti mencintai kemudian pergi dan seperti menyakiti diri sendiri??
Dan wanita yang di tinggalkan itupun bersedih dalam kebingungannya,
>> Dua hal yang berbeda, Lalu,mencintai yang benar harus bagaimana??????
No comments:
Post a Comment